Artikel
Tumpek klurut, hari kasih sayang versi bali
Kami pemerintah dan masyarakat desa tembuku mengucapkan rahajeng rahina tumpek klurut. Sesuai dengan intruksi gubernur bali No 2 tahun 2023.
Tumpek klurut berasal dari 2 suku kata yaitu : Tumpek + Krulut yang secara harfiah memiliki arti kasih sayang atau tresna.Sehingga kata Tumpek Klurut dapat diartikan sebagai, mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan sesama manusia dan juga alam disekitar kita dengan rasa kasih sayang.Tumpek Krulut jatuh pada Sabtu, Kliwon, wuku krulut sebagai sujud syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara atas terciptanya suara-suara suci/tabuh dalam keindahan dan seni. Tumpek klurut dirayakan setiap 210 hari(dua kali dalam setahun).
Tumpek klurut juga dapat dibilang sebagai Perayaan Hari Kasih Sayang versi Bali yang berbeda dengan Hari Valentine yang dirayakan dengan jalan-jalan dengan pacar.Pada Tumpek Klurut, kita diharapkan agar mengasihi dan menyangangi seluruh alam semesta dan isinya.Masyarakat Hindu Bali sejatinya memberikan persembahan kepada Dewa Iswara yang menurut kepercayaan mereka hadir dalam bentuk manifestasi gamelan, dengan menyipratkan air suci ke set gamelan yang akan disucikan. Selanjutnya, masyarakat Bali akan memberikan sajian berupa sesajen yang merupakan simbol persembahan kepada Dewa Iswara.
Hal terpenting yang harus diperhatikan yaitu rasa tulus dalam melaksanakannya karena, rasa tulus dalam melaksanakan upacara serta memberikan sesajen merupakan bentuk nyata dari rasa kasih sayang yang dimiliki oleh setiap orang.Makna dari tumpek klurut yaitu sayang cinta dan welas asih dan yang terpenting yaitu dapat mencintai pekerjaan dan dilakukan dengan tulus saling asah asih asuh antar manusia melalui sarana seni tabuh maka dari situlah akan terbentuk sebuah sebuah rasa senang tertarik dan terpesona dalam kehidupan.
Tumpek klurut juga memiliki tujuan agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara yadnya memiliki suara yang indah dan “taksu”. Dari alunan nada tersebut juga dapat melahirkan sebuah gerak-gerak indah sebagai unsur seni dan dari seni tersebut akan dapat mewujudkan rasa kasih sayang.Dari keindahan itu, seni menjadi hiburan yang dapat menyeimbangkan hidup.Prosesi upacara dalam tradisi ini yaitu dengan melakukan penyucian satu set gambelan. Cara penyuciannya pun dilakukan dengan menyipratkan air suci ke set gambelan yang akan disucikan.Penyucian ini bertujuan untuk menghilangkan hal-hal buruk yang menempel pada gambelan. Dan Adapun banten yang umum dipersembahkan pada saat hari Tumpek Klurut itu yaitu berupa ; banten peras, ajuman, tigasan, pejati, dananan, pesucian, tipat sirikan, tipat gong, segehan panca warna dsb dan semua itu dapat disesuaikan dengan kemampuan serta kesepakatan dari desa, kala dan patra dimasing – masing tempat tinggal umat.
Sumber : Sejarah Hari Raya Hindu Bali Calonarang Taksu






Rapat verifikasi Data PKH,BPNT,dan Data Anak Beresiko Stanting
Rahina Saraswati Bulan Oktober 2026
Kegiatan Posyandu Banjar Dinas Kedui Bulan Oktober 2026
Kegiatan Posyandu Banjar Dinas Penida Kaja Bulan Oktober 2026
Kegiatan Posyandu Banjar Dinas Tembuku Sesetan Bulan Oktober 2036
Kegiatan Posyandu Banjar Dinas Tembuku Bakas Bulan Oktober 2026
Kegiatan Posyandu Banjar Dinas Tegalasah Bulan Oktober 2026
Mengenal Lebih Dalam tentang Bhatara Hyang Guru
Pelaksanaan Hari Suci Saraswati 2025
PUCUK BANG Sebagai Maskot Kabupaten Bangli, Bali
Penyaluran Bantuan Langsung Tunai ( BLT ) Dana Desa Tahap VII Tahun 2021
REKOMENDASI Nomor 071/ 03 / Satgas Covid-19 / 2021
Cara Pengolahan Sampah Berbasis Sumber
Musyawarah Desa Khusus Penetapan Hasil Pendataan Data SDGs Desa, Desa Tembuku Tahun 2021
Pasar Murah di Kantor Camat Tembuku
Kegiatan Vaksin Covid-19 Tahap 3 di Br.Dinas Tegalasah
Pelayanan Online Sistem Informasi Desa Tembuku
pembagian BLT Desa Tembuku Bulan November tahun 2024
Sosialisasi Persiapan Lomba Telajakan di tingkat Provinsi Bali di Banjar Dinas Tembuku Kaja
Verifikasi Data Dari KPU
Penyerahan BLT DD Bulan Januari dan Pebruari
